SELURUH NAMA PEMIMPIN KABUPATEN INDARAYU

dibawah ini adalah nama-nama dinasti kepemimpinan kabupaten indramayu hingga sekarang.

1. Raden Singalodra ( WIRALODRA I )

2. Raden Wirapati ( WIRALODRA II )

3. Raden Sawedi ( WIRALODRA III )

4. Raden Banggala ( WIRALODRA IV )

5. Raden Banggali ( WIRALODRA V )

6. Raden Samaun ( WIRALODRA VII )

7. Raden Krestal

8. Raden Warngali

9. Raden Wiradibrata I

10. Raden T.Suranenggala

11. Raden Djlari ( Purbadi Negara I ) ( 1900 )

12. Raden Rolat ( Purbadi Negara II) ( 1900 – 1917 )

13. Raden Sosrowardjoyo ( 1917 – 1932 )

14. Raden AA. Moch. Soediono ( 1933 – 1944 )

15. Dr. Raden Murdjani ( 1944 – 1946 )

16. Raden Wiraatmaja ( 1946 – 1947 )

17. M. I . Syafiuddin ( 1947 – 1948 )

18. Raden Wachyu ( 1949 – 1950 )

19 .Tikol Al Moch. Ichlas ( 1950 – 1951 )

20. Tb. Moch. Cholil ( 1951 )

21. Raden Djoko Said Prawirawidjojo ( 1952 – 1956 )

22. Raden Hasan Surya Satjakusumah ( 1956 – 1958 )

23. Raden Firman Ranuwidjoyo ( 1958 – PJ )

24. Entol Djunaedi Satiawiharja ( 1958 – 1960 )

25. H. A. Dasuki ( 1960 – 1965 )

26. M. Dirlam Sastromihardjo ( 1965 – 1973 )

27. Raden Hadian Suria Adiningrat ( 1974 – 1975 )

28 .H. A. Djahari, SH ( 1975 – 1985 )

29. H. Adang Suryana ( 1985 – 1990 )

30. H. Ope Mustofa ( 1990 – 2000 )

31. H. Irianto MS. Syafiuddin ( 2000 – 2010 )

32. Hj. Annah Sophanah ( 2010 – 2015 )

source:adenzaky.blogspot.com

DAYAK BUMI SEGANDU

DAYAK BUMI SEGANDU

Kaum Minoritas yang Hidup Damai di Bumi Losarang MASYARAKAT adat Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu (sering disebut Dayak Losarang) sudah hidup berpuluh-puluh tahun di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Cara berpakaiannya khas, tak mengenakan pakaian atas dan menutup tubuhnya hanya dengan celana sebetis berwarna hitam putih. Dengan keunikannya itu, bagaimana kaum minoritas ini hidup bersosialisasi dengan masyarakat sekitar?

SEORANG anggota Dayak Losarang, Dedi bercerita, ia dan pengikut lainnya hidup berdampingan dengan masyarakat setempat dengan baik. Saling berbagi dan saling memberi, menjadi hal yang dijaga untuk menciptakan kedamaian. Masyarakat Losarang pun, sangat menghargai keberadaan mereka.

“Kehidupan kami, ya biasa saja. Bahkan, saat kami dicap sesat dan khawatir akan diserang oleh pihak-pihak yang tidak suka, masyarakat melindungi kami. Katanya, kalau ada yang menyerang, mereka (masyarakat setempat) akan berada di barisan depan,” kata Dedi.

Keharmonisan itu tercipta, karena prinsip saling menghormati dan tidak merugikan yang dipegang kuat selama ini. Masyarakat adat Dayak Losarang, sebagian besar berprofesi sebagai petani. Hasil bumi, biasa ikut dibagi kepada masyarakat yang juga menginginkannya. Pilihan bertani, memang pilihan paling memungkinkan bagi mereka.

“Untuk aktivitas, kami bermacam-macam. Ya biasa saja, tetap mencari nafkah. Tetap dengan bertelanjang dada. Kalau seperti saya yang total, cari nafkah dengan bertani, atau pekerjaan serabutan lain. Yang penting, mencari rezeki tidak merugikan orang lain,” kata Dedi.

Hidup sebagai kelompok minoritas, tak membuat masyarakat adat Dayak Losarang terpinggirkan. Mereka mengaku merasa termarjinalkan oleh peraturan perundang-undangan yang dibuat negara. Seperti halnya kelompok masyarakat adat lain, masyarakat Dayak Losarang juga terhambat urusan administrasi kependudukan. Harapan mereka, harapan klasik yang selalu diutarakan kelompok minoritas : mendapat perlakuan dan hak yang sama sebagai warga negara. Kapan akan menjadi nyata? (Inggried Dwi Wedhaswary).   

PRASASTI KABUPATEN INDRAMAYU

FOTO ASLI PRASATI KABUPATEN INDRAMAYU DALAM HURUF JAWA KUNO

PRASASTI KABUPATEN INDRAMAYU

Prasasti ini ditulis asli oleh pendiri kabupaten indramayu dalam bahasa jawa kuno.

PRASASTI DALAM BAHASA JAWA KUNO YANG ASLI

Nanging Benjang Allah nyukani Kerahmatan kang linuwih Darma ayu mulih harja Tan ana sawiji – wiji Pertelane Yen wonten taksaka nyabrang kali Cimanuk Sumur kajayaan deres mili Dlupak murub tanpa patra Sadaya pan mukti malih Somahan lawan prajurit Rowang lawan priagung Samya tentram atine Sadaya harja tumuli Ing sekehing Negara pada raharja

PRASASTI YANG SUDAH DITERJEMAHKAN DALAM BAHASA INDONESIA

Artinya :

Akan tetapi Allah melimpahkan Rahmat-Nya yang berlimpah Darma Ayu kembali makmur tiada ada suatu hambatan Tandanya Jika ada ular nyebrangi sungai cimanuk Sumur kejayaan mengalir deras Lampu menyala tanpa minyak Semua hidup makmur Bekerja sama dengan tentara Membantu penguasa Semua hidup aman dan tentram Seluruh negara hidup makmur

DAYAK LOSARANG

DAYAK LOSARANG

Kami Dianggap Aneh, Tapi Ada SETIAP kelompok masyarakat adat di seluruh Indonesia memiliki keunikan sendiri dalam berpakaian. Ada yang identik dengan warna-warna cerah, ada pula yang menonjolkan aksesoris sebagai ciri khas daerahnya. Masyarakat Dayak Losarang, atau yang juga dikenal sebagai Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu juga punya cara sendiri dalam berpakaian. Mereka, ada yang memilih berpakaian hitam-hitam, ada pula yang memilih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana tiga perempat berwarna hitam putih. Pilihan-pilihan ini bukan tanpa makna. Salah seorang anggota masyarakat Dayak Losarang, Dedi menceritakan, bagi sebagian orang, cara berpakaian mereka memang dianggap aneh. Namun, lama kelamaan kehadiran mereka dianggap biasa dan menjadi keunikan yang menambah kekayaan budaya masyarakat adat di Indonesia. “Orang akan melihat kami aneh, tapi inilah kami. Kata orang, kami seperti orang-orang, seperti orang terbelakang,” kata Dedi yang ditemui saat mengikuti Upacara Seren Taun 2008 di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (20/12) lalu. Jangankan orang lain, keluarga Dedi pun awalnya kontra dengan pilihannya bergabung di masyarakat adat Dayak Losarang dan pilihan caranya berpakaian. Namun, lama kelamaan, keluarganya menghormati jalan yang dipilihnya. “Asalkan tidak merugikan orang lain,” katanya. Masyarakat adat Dayak Losarang berbasis di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Dedi, sudah 8 tahun memutuskan untuk melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya. Selama 8 tahun, ia hanya menutup tubuhnya dengan celana hitam putih sebetis itu. Saat ditanya, apa tak kedinginan atau kepanasan dengan cara berpakaian seperti itu, pemuda berusia 30-an tahun ini hanya tertawa. “Semua orang tanya begitu, sudahlah tidak usah diungkapkan,” ujarnya.

Ada ritual yang harus dijalani, sebelum memutuskan menanggalkan pakaian. Selama 4 bulan tidur berendam di sungai, dan siang harinya berjemur di tengah terik panas matahari. Ia menceritakan ritual tersebut dilakukan sejak pukul 12 malam hingga 6 pagi, tidur berendam di salah satu sungai di Losarang.

“Awalnya, kita juga berawal dari orang-orang yang pola hidupnya instan, berpakaian seperti orang pada umumnya. Kemudian, ada yang mencapai step berikutnya dengan mengubah pola hidup yang utopis seperti ini. Prosesnya memang bertahap, dengan sejarah alam ngadi rasa. Sebelum bertelanjang dada, Bapak (Takhmad, sesepuh Dayak Losarang) memakai pakaian hitam-hitam. Maka, pengikutnya mengikuti, tujuannya untuk mengukur kapasitas kesabaran,” kata Dedi menjelaskan.

Cara berpakaian seperti ini, menurutnya merupakan cara untuk menyatukan diri dengan alam. Ritual berendam di sungai dan berjemur di panas matahari, dilakukan selama 4 bulan dalam 1 tahun. Dengan melakukan ritual ini secara rutin, maka akan menanggalkan hawa panas dan dingin yang dirasakan tubuh.

“Asumsi orang memang macam-macam. Ada yang bilang mencari kesaktian lah, ada yang bilang mau jadi dukun. Padahal, pondasinya melatih kesabaran. Kadang kalau lagi berendam, tiba-tiba ada ular di kantong celana. Tapi semua sudah biasa,” ungkap Dedi.

Sebagian besar masyarakat adat Dayak Losarang juga terlihat khas dengan rambutnya yang dibiarkan panjang (gondrong). Meski enggan menjelaskan, kata Dedi, semua itu juga dilakukan karena ada makna yang terkandung dibalik pilihan tersebut. Ia hanya bersedia menceritakan, mengapa masyarakat komunitasnya memilih menggunakan pakaian berwarna hitam putih dan menggunakan gelang serta kalung yang terbuat dari potongan bambu.
“Gelang dan kalung itu kan terbuat dari potongan-potongan bambu yang disatukan dengan seutas tali. Ini melambangkan perjuangan dan persatuan, bahwa yang terpisah-pisah itu kalau diikatkan akan bisa berfungsi,” ujarnya. (Inggried Dwi Wedhaswary).

DAYAK INDRAMAYU

DAYAK INDRAMAYU

“Sing Ujung Muara Kali Cimanuk di Boyong Ning Lebak Kraton Bumi Segandu”

Acara yang rencananya di gelar mulai tanggal 18 Februari 2009 akan menampilkan pameran Cipta Karya, Apresiasi, dan kKeasi masyarakat adat. Rencananya yang akan pentas tidak hanya kelompok kesenian dari Jawa Barat saja tapi dari luar pun akan ikut memeriahkan acara ini. Sedangkan acara puncaknya sendiri akan berlangsung tanggal 25 Februari dan 26 Februari 2009. Acara Ruatan dimulai dengan acara pertama “Ngarak Putri Kraton” pada tgl.25 Februari 2009 pkl.07.00 – selesai, acara ini akan diiringi dengan Arakan kebo bule dan kebo hitam, jangkungan, topeng, slerek, kuda lumping, berokah, calung angklung, perahu, busana (Belanda, Welanda,J epang, Nipong, Walmina, Francis,J awa Sunda, Sunda Jawa), acara kedua “Doa Lintas Iman” , acara ketiga “Wayang Kulit”.

Pada Acara puncak tgl.26 Februari 2009 yaitu acara “Ruatan Putri Kraton Bumi Segandu”. Acaranya sendiri akan diadakan di Padepokan Nyi Ratu Kembar Jaya, Desa Krimun RT.13 RW.03 Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu Propinsi Jawa Barat.

Sumber : dayakdermayu.blogspot.com